Menjalankan produk yang disupport
dengan baik oleh principal memang tidak ada salahnya. Produk yang dipromosikan
tentunya akan berbeda dengan produk yang tidak ada promosi sama sekali. Fungsi
program promosi tentu saja adalah upaya principal menaikan volume penjualan.
Sedangkan distributor bertugas untuk menjalankan setiap program yang diberikan
oleh principal tersebut sampai titik darah penghabisan. Ada satu contoh program
promosi yang bertopik “gosok-gosok” dimana disetiap bungkus yang digosok
tersebut muncul angka Rp 500,- dan pihak konsumen bisa menukarkan bungkus
tertera angka Rp500,- tersebut ke toko. Setelah itu toko akan klaimkan bungkus
itu ke distributor. Hasilnya penjualannya memang empat kali lipat dari
rata-rata 6 bulan sebelumnya. Program promosi ini sangat berhasil, tetapi
distributor tidak menduga dan kurang cermat terhadap mekanisme dari klaim yang
harus dilakukan ke pihak Principal.
Pihak principal akan menyelesaikan
semua klaim dari distributor setelah program usai. Usia program adalah 3 bulan.
Tentu saja hal ini membuat distributor kelabakan. Masalah bukan karena tidak
bisa klaim kepada principal tetapi hasil pengumpulan bungkus itu sudah
rata-rata nilainya miliaran rupiah. Bagi distributor yang modalnya tidak
berlipat tentu saja hal ini sangat mengganggu cash flow-nya sehingga terlambat
membayar kepada principal produk lainnya. Nah, celakanya lagi setelah tepat 3
bulan diklaimkan, distributor diharap menunggu dengan “sabar” perhitungan dari
masing-masing distributor yang ada di seluruh Nusantara. Sementara itu yang
menangani klaim di principal hanya 1 orang saja. Ini termasuk kasus yang
membuat semua distributor marah besar dan tidak sedikit akhirnya minta
mengundurkan diri karena tidak sanggup untuk melanjutkan sebagai distributor
produk tersebut.
Kalau kita mau bijaksana, sebagai
distributor kita tidak boleh bergembira terlebih dahulu sebelum mengetahui
secara detail program dan mekanisme penyelesaian budget yang dibuat oleh
principal. Seperti yang kita ketahui bahwa support principal terhadap
distributor akan sangat bermanfaat sekali dalam aktivitas penjualan produk
kepada setiap penyalur. Namun demikian perlu dicermati ulang setiap program
yang diberikan oleh principal jangan sampai program-program principal cukup
banyak dan sangat merepotkan distributor itu sendiri. Pada kasus diatas jelas
pihak distributor merasa dirugikan. Berapa bulan uang segarnya berhenti tidak
berputar dan kalau dihitung berdasarkan bunga bank, tentu distributor mengalami
banyak kerugian. Maka sebaiknya cermatilah setiap program yang diberikan oleh
principal. Bergembira menjalankan produk yang di-support dengan baik oleh pihak
principal syah-syah saja, tetapi alangkah baiknya mengetahui terlebih dahulu
mekanisme setiap program promosi yang diadakan oleh principal tersebut. Seperti
pemaparan diatas, klaim dibayar oleh pihak distributor terlebih dahulu.
Ada berbagai bentuk support yang
diberikan principal diluar program promosi seperti yang dijelaskan di atas
yaitu bantuan subsidi dana pengadaan SDM, baik itu di sisi gaji atau biaya
operasional SDM. Pada umumnya yang diberikan subsidi adalah tenaga marketing
misalnya salesman, SPG atau motoris. Pada topik terdahulu sudah penulis
jelaskan bahwa principal tertentu akan membantu pemasaran produk di distributor
dengan memberikan bantuan tenaga marketing seperti salesman, SPG atau motoris. Tenaga bantuan tersebut akan disubsidi oleh
principal. Namun yang perlu diketahui ada dua mekanisme yang biasanya
ditawarkan oleh principal. Pertama,
pembayaran gaji dan biaya operasional dibayar terlebih dahulu oleh distributor setelah
itu distributor klaim ke principal. Kedua,
pembayaran gaji dan biaya operasional langsung dibayar oleh principal.
Sedangkan dari kedua kondisi tersebut di atas pada umumnya mekanisme yang
sering digunakan adalah yang nomer satu.
Setelah mengetahui kondisi di atas,
seringkali distributor hanya mau menjalankan produk principal yang memberikan
subsidi atau support ke distributor. Sedangkan produk yang lain, apalagi yang
hanya diletakan/serahkan begitu saja ke distributor tidak dijalankan dengan
serius. Jika sudah komitmen mau menjalankan sebenarnya distributor sudah
memiliki tanggung jawab untuk melakukan penyebaran produk ke saluran-saluran
yang ada, tetapi kenyataannya distributor tidak melakukan hal ini dan cenderung
hanya menjalankan produk milik principal yang memberikan banyak dukungan. Seperti diuraikan diawal hal itu boleh saja
asal mengetahui mekanisme yang jelas setelah semua support itu diberikan,
distributor wajib memikirkan sejumlah dana yang sudah dikeluarkan atas perintah
principal. Jangan sampai distributor terjebak hanya lantaran karena banyak support,
distributor sangat termotivasi namun pada akhirnya harus menanggung kerugian
karena klaim ada yang tidak dibayar principal karena ketidakjelasan mekanisme
klaimnya. Jadi kesimpulannya, distributor telah melakukan kesalahan dengan
menganggap bahwa dengan semakin banyak support dari principal, maka semakin
mulus dalam mendistribusikan barang principal, padahal hal tersebut belum tentu.
Oleh sebab itu tinjaulah dan teliti ulang setiap support dari principal, jangan
sampai malah menjadi senjata makan tuan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar